Kamis, April 23, 2009

EXHAUSTED


Terseok-seok kaki ini mengikuti lebarnya langkahmu, dengan deru napas yang turun naik mencoba meraih jejakmu. Ku paksa kaki kecil ini untuk terus berjalan, berlari, walau tak jarang diiringi derai tangis di sela-sela jatuhku.
Tak kuhiraukan semua itu, aku hanya ingin menapakkan jejak bersama, beriringan dengan jejakmu. Tapi kau bagaikan pualam di atas kencangnya laju kereta, tak sedikitpun iba di gurat wajahmu, tak bisakah kau berhenti sejenak hanya untuk menengok ke belakang, sekedar untuk melihatku atau ‘tuk memapah raga ini. Tak bisakah kau melambatkan laju mu barang sekejap, agar ku dapat berdiri di sisimu.

Di saat kedua kaki yang telah tertutup perih berhasil menyamai gerak langkahmu, ada sepenggal rasa yang menyelimuti setiap sisi raga dan relung hati, sepenggal rasa yang teramat sangat hingga aku tak bisa lagi mengikuti setiap jengkalmu. Aku hanya bisa terpekur diam di sini, karena beratnya rasa itu….
Kucoba ulurkan tangan ini tapi mengapa kau hanya menatapku tajam bak sebilah pisau yang siap menghujam tubuh lemahku. Tak juga kau sambut tanganku, kiranya sebongkah keangkuhan telah merasukimu dan kembali kau menapakkan kakimu secepat kilat meninggalkanku. Kuangkat raga yang telah tercabik-cabik oleh amarah dan pilu untuk kembali mengikutimu. Kupaksa kedua kakiku yang mulai berdarah untuk tetap menyamai langkah tegapmu.
Tak terasa, jejak langkah ini telah sampai di persimpangan sebuah alur yang sangat panjang. Dengan perih kulihat bayang-bayang langkahmu di ujung sana, di sebuah jalan yang diterangi berjuta kunang-kunang. Indah memang, sangat indah, tapi rasanya aku tak mampu menggapai kemolekan itu bersamamu, bersama arogannya langkahmu.
Tertatih-tatih kaki kecil ini berusaha melewati persimpangan jalan, tapi aku tak juga beranjak. Aku ingin berlari dan menyusul jejakmu, menggandeng tanganmu melewati cahaya kunang-kunang, tapi ragaku hanya bisa bersimpuh di sini. Akhirnya aku harus berdiri di persimpangan ini dan merelakanmu berlari riang diiringi cantiknya cahaya kunang-kunang.




Selasa, April 21, 2009

NARASI TAK BERJUDUL

Mendung di bulan ini….
Gemericik rinai hujan di bulan ini….
Memaksa anganku untuk kembali menelusuri lorong waktu yang pernah kulewati beberapa tahun lalu. Saat aku terduduk di dalam jet coaster yang membuatku berputar-putar, semua rasa membuncah dalam dada ketika diri ini berada di ketinggian. Ya, aku berada di ketinggian dan ternyata aku telah bertahun-tahun duduk di tempat yang paling tinggi ini.


Inilah tempat yang aku sukai, tempat paling atas, paling tinggi dimana aku bisa melihat sekelilingku di bawah sana dengan riuh rendah serta renyahnya tawa dan suka cita. Rasanya semakin kencang tawa dan kegembiraan yang muncul, semakin kencang jet coaster ini berlari.
Namun seolah aku tak pernah menyadari jika sebentar lagi jet coaster yang kunaiki akan menghempaskanku di putaran yang paling bawah.


Dan….waktu itu tiba, waktu dimana liukan jet coaster menghempaskan dan melemparkanku diiringi dengan kecepatan yang maha dahsyat.
Dalam sekedip mata, aku telah berada di putaran terendah, dengan segenap teriakan. Dengan sisa nafas dan tenaga yang masih melekat di diriku, ku berteriak….aku berteriak…hei jet coaster bawa aku kembali ke atas ! Bawa aku…..Kembalikan aku ke putaran tertinggi ! Teriakanku tertelan bisingnya suara jet coaster yang terus menukik ke bawah, ke tempat paling bawah,
Teriakan kali ini tidak membuatku tertawa, tidak juga membuatku bahagia. Teriakan kali ini sontak menyeretku dalam riuhnya tangis, yang membuatku timbul tenggelam dalam arus kesedihan serta kehampaan.


Dengan suara yang masih menderu, jet coaster terus berputar di lingkaran yang terendah, sepertinya ia enggan untuk mengantarku kembali ke atas. Dan memang ia benar-benar tak mau lagi membuatku berputar di atas sana.
Kini…tinggallah aku seorang meliuk-liuk bagaikan layang-layang hilang kendali. Aku duduk sendiri di jet coaster yang tak tahu kapan akan membawaku naik. Hanya cucuran air mata yang kerap menemaniku di gelapnya lorong waktu, hanya penyesalan yang menjadi teman akrabku, hanya kehampaan, kekosongan yang menjadi pendamping setiaku, hanya kerinduan yang selalu setia di sampingku.

Mendung di bulan ini….
Gemericik rinai hujan di bulan ini….
Perlahan-lahan jet coaster yang kutumpangi bergerak naik, sangat perlahan tapi cukup sudah membuatku tersenyum. Senyuman yang tak akan bisa menghapus kerinduan dan kesedihan yang telah mengharu biru.

Mendung di bulan ini….
Gemericik rinai hujan di bulan ini…
Menyadarkanku bahwa aku sangat merindukanmu….


Dedicated for Alm. Sedijono, Almh. Hj. Tri Harmamiek
3 tahun sudah “engkau yang tercinta” meninggalkanku



SEANDAINYA AKU….

Seandainya aku seorang konglomerat, akan aku dirikan rumah susun untuk saudara-saudaraku korban lumpur panas di Sidoarjo… dan untuk saudara-saudaraku korban tsunami Aceh yang sampai saat ini belum bisa mendapatkan tempat tinggal yang layak,

Seandainya aku seorang trilyuner, akan aku berikan pekerjaan dengan gaji tinggi untuk saudara-saudaraku yang terkena PHK, yang menjadi korban dari kenaikan BBM, agar mereka tak perlu lari ke luar negeri hanya untuk menjadi pembantu,
Seandainya aku seorang saudagar kaya raya, akan aku serahkan Freeport dan semua emasnya ke putra-putri Papua,

Seandainya aku seorang milyuner, akan aku berdayakan sawah-sawah di Indonesia dan aku makmurkan para petaninya, agar kita tak perlu lagi import beras,

Seandainya aku seorang raja minyak, akan aku gratiskan BBM untuk semua rakyatku agar tak ada lagi antrian panjang, serta keluhan ibu-ibu yang pusing karena naiknya harga dan agar tak ada lagi anak-anak yang mati kelaparan karena orangtua mereka tak sanggup lagi memberikan makanan sehat,

Maafkan aku wahai saudara-saudaraku, aku hanya bisa berandai-andai, karena aku cuma rakyat kecil, segelintir orang yang hanya bisa menyuarakan jeritan hati yang berisi kesedihan dan keprihatinan melihat serta merasakan derita saudara-saudaraku, yah… jeritan hati ini hanya bisa menjadi air mata melihat nasib penghuni negara ini.

Aku tak mampu menjadi seorang yang aku andaikan, tapi paling tidak aku masih mempunyai hati yang “hidup”, yang bisa merasakan kepedihan serta tangisan saudara-saudaraku diseberang sana.
Aku hanya bisa mengadukan semua jeritan hati ini ke hadapanNya, karena aku yakin akan kekuatan doa, karena Tuhan tidak pernah tidak menjawab doa hambaNya, Ia pasti mengabulkan permintaan hambaNya karena Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, Allah SWT tak pernah lalai hanya sering menunda dan mengulur karena hanya Dialah yang Maha Tahu kapan waktu yang tepat dijawabnya doa kita.

QS Al Baqarah (2), 186 : Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu. Maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintahKu dan hendaklah mereka beriman kepadaKu agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

QS Al-A’raaf (7), 55 : Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah diri dan suara yang lembut, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.